SEMI KONDUKTOR
TEORI DASAR SEMIKONDUKTOR
Seperti ditunjukkan pada gambar 1.1 atom silikon mempunyai elektron yang mengorbit (yang mengelilingi inti) sebanyak 14 dan atom germanium mempunyai 32 elektron. Pada atom yang seimbang (netral) jumlah elektron dalam orbit sama dengan jumlah proton dalam inti. Muatan listrik sebuah elektron adalah: - 1.602-19 C dan muatan sebuah proton adalah: + 1.602-19 C.

Apabila
kita berbicara tentang elektronika maka tidak akan lepas dari
semikonduktor. Memang pada awal kelahirannya elektronika didefenisikan
sebagai cabang ilmu listrik yang mempelajari pergerakan muatan didalam
gas ataupun vakum. Penerapannya sendiri juga menggunakan
komponen-komponen yang utamanya memanfaat kedua medium ini, yang dikenal
sebagai Vacuum Tube. Akan tetapi sejak ditemukannya transistor, terjadi
perubahan trend dimana penggunaan semikonduktor sebagai pengganti
material komponen semakin populer dikalangan praktisi elektronika.
Puncaknya adalah saat ditemukannya Rangkaian Terpadu (Integrated Circuit)
pada akhir dekade 50-an yang telah menyederhanakan berbagai rangkaian
yang sebelumnya berukuran besar menjadi sangat kecil. Selain itu
penggunaan material semikonduktor juga memberikan fleksibilitas dalam
penerapannya.
Operasi
semua komponen benda padat seperti dioda, LED, Transistor Bipolar dan
FET serta Op-Amp atau rangkaian terpadu lainnya (solid state) didasarkan
atas sifat-sifat semikonduktor. Secara umum semikonduktor adalah bahan
yang sifat-sifat kelistrikannya terletak antara sifat-sifat konduktor
dan isolator. Sifat-sifat kelistrikan konduktor maupun isolator tidak
mudah berubah oleh pengaruh temperatur, cahaya atau medan magnit, tetapi
pada semikonduktor sifat-sifat tersebut sangat sensitif.
Elemen
terkecil dari suatu bahan yang masih memiliki sifat-sifat kimia dan
fisika yang sama adalah atom. Suatu atom terdiri atas tiga partikel
dasar, yaitu: neutron,proton, dan elektron. Dalam struktur atom, proton
dan neutron membentuk inti atom yang bermuatan positip dan sedangkan
elektron-elektron yang bermuatan negatip mengelilingi inti.
Elektron-elektron ini tersusun berlapis-lapis. Struktur atom dengan
model Bohr dari bahan semikonduktor yang paling banyak digunakan,
silikon dan germanium terlihat pada gambar 1.1.
Seperti ditunjukkan pada gambar 1.1 atom silikon mempunyai elektron yang mengorbit (yang mengelilingi inti) sebanyak 14 dan atom germanium mempunyai 32 elektron. Pada atom yang seimbang (netral) jumlah elektron dalam orbit sama dengan jumlah proton dalam inti. Muatan listrik sebuah elektron adalah: - 1.602-19 C dan muatan sebuah proton adalah: + 1.602-19 C.
Elektron yang menempati lapisan terluar disebut sebagai elektron valensi. Aktifitas
kimiawi dari sebuah unsur terutama ditentukan oleh jumlah elektron
valensi ini. Unsur-unsur pada tabel periodik telah disusun sedemikian
rupa berdasarkan jumlah elektron valensinya. Silikon (Si) dan Germanium
(Ge) berada pada Grup IV karena memiliki empat elektron valensi pada
kulit terluarnya, sehingga disebut juga semikonduktor dasar (elemental semiconductor). Sedangkan Gallium Arsenik(GaAs) masing-masing berada pada Grup III dan V, sehingga dinamakan semikonduktor gabungan (compound semiconductor).
Atom-atom
silikon yang berdiri sendiri dapat digambarkan sebagai lambang unsur
(Si) dengan empat buah garis kecil yang terpisah (Gambar 1).Oleh karena itu baik atom silikon maupun atom germanium disebut juga dengan atom tetra-valent (bervalensi empat). Saat
atom-atom ini berdampingan cukup, elektron valensinya akan berinteraksi
untuk menghasilkan kristal. Struktur akhir kristalnya sendiri adalah
dalam konfigurasi thetahedral sehingga setiap atom memiliki empat atom
lainnya yang berdekatan. Elektron-elektron valensi dari setiap atom akan
bergabung dengan elektron valensi dari atom didekatnya, membentuk apa
yang disebut ikatan kovalen (covalent bonds) seperti terlihat pada
Gambar 2. Struktur kisi-kisi kristal silikon murni ini dapat digambarkan secara dua dimensi guna memudahkan pembahasan. Lihat gambar 1.2. Salah
satu sifat penting dari struktur ini adalah bahwa elektron valensi
selalu tersedia pada tepi luar kristal sehingga atom-atom silikon lain
dapat terus ditambahkan untuk membentuk kristal yang lebih besar.

Meskipun
terikat dengan kuat dalam struktur kristal, namun bisa saja elektron
valensi tersebut keluar dari ikatan kovalen menuju daerah konduksi
apabila diberikan energi panas. Bila energi panas tersebut cukup kuat
untuk memisahkan elektron dari ikatan kovalen maka elektron tersebut
menjadi bebas atau disebut dengan elektron bebas. Pada suhu ruang
terdapat kurang lebih 1.5 x 1010 elektron bebas dalam 1 cm3 bahan
silikon murni (intrinsik) dan 2.5 x 1013 elektron bebas pada germanium.
Semakin besar energi panas yang diberikan semakin banyak jumlah elektron
bebas yang keluar dari ikatan kovalen, dengan kata lain konduktivitas
bahan meningkat. Setiap elektron yang menempati suatu orbit tertentu
dalam struktur atom tunggal (atau terisolasi) akan mempunyai level
energi tertentu. Semakin jauh posisi orbit suatu elektron, maka semakin
besar level energinya. Oleh karena itu elektron yang menduduki posisi
orbit terluar dalam suatu struktur atom atau yang disebut dengan
elektron valensi, akan mempunyai level energi terbesar. Sebaliknya
elektron yang paling dekat dengan inti mempunyai level energi terkecil.
Level energi dari atom tunggal dapat dilihat pada gambar 1.3.
Di antara level energi individual yang dimiliki elektron pada orbit tertentu
terdapat celah energi yang mana tidak dimungkinkan adanya elektron mengorbit.
Oleh karena itu celah ini disebut juga dengan daerah terlarang. Suatu elektron tidak dapat mengorbit pada daerah terlarang, tetapi bisa melewatinya dengan cepat. Misalnya bila suatu elektron pada orbit tertentu mendapatkan energi tambahan dari luar (seperti energi panas), sehingga level energi elektron tersebut bertambah besar, maka elektron akan meloncat ke orbit berikutnya yang lebih luar yakni dengan cepat melewati daerah terlarang. Hal ini berlaku juga sebaliknya, yaitu apabila suatu elektron dipaksa kembali ke orbit yang lebih dalam, maka elektron akan mengeluarkan energi.
terdapat celah energi yang mana tidak dimungkinkan adanya elektron mengorbit.
Oleh karena itu celah ini disebut juga dengan daerah terlarang. Suatu elektron tidak dapat mengorbit pada daerah terlarang, tetapi bisa melewatinya dengan cepat. Misalnya bila suatu elektron pada orbit tertentu mendapatkan energi tambahan dari luar (seperti energi panas), sehingga level energi elektron tersebut bertambah besar, maka elektron akan meloncat ke orbit berikutnya yang lebih luar yakni dengan cepat melewati daerah terlarang. Hal ini berlaku juga sebaliknya, yaitu apabila suatu elektron dipaksa kembali ke orbit yang lebih dalam, maka elektron akan mengeluarkan energi.
Dengan
kata lain, elektron yang berpindah ke orbit lebih luar akan membutuhkan
energi, sedangkan bila berpindah ke orbit lebih dalam akan mengeluarkan
energi. Besarnya energi dari suatu elektron dinyatakan dengan satuan
elektron volt (eV). Hal ini disebabkan karena definisi energi merupakan
persamaan: W = Q . V
dimana:
W = energi Joule (J)
Q = muatan (Coulomb)
V = potensial listrik [Volt (V)]
Dengan potensial listrik sebesar 1 V dan muatan elektron sebesar 1.602-19 C, maka energi dari sebuah elektron dapat dicari: W = (1.602-19 C) (1 V) = 1.602-19 J
Hasil tersebut menunjukkan bahwa untuk memindahkan sebuah elektron melalui beda potensial sebesar 1 V diperlukan energi sebesar 1.602-19 J. Atau dengan kata lain: 1 eV = 1.602-19 J.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa untuk memindahkan sebuah elektron melalui beda potensial sebesar 1 V diperlukan energi sebesar 1.602-19 J. Atau dengan kata lain: 1 eV = 1.602-19 J.
Bila
atom-atom tunggal dalam suatu bahan saling berdekatan (dalam
kenyatannya memang mesti demikian) sehingga membentuk suatu kisi-kisi
kristal, makaatom-atom akan berinteraksi dengan mempunyai ikatan
kovalen. Karena setiap elektron valensi level energinya tidak tepat
sama, maka level energi jutaan elektron valensi dari suatu bahan akan
membentuk range energi atau yang disebut dengan pita energi valensi atau
pita valensi. Gambar 1.4 menunjukkan diagram pita energi dari bahan
isolator, semikonduktor dan konduktor.
Suatu
energi bila diberikan kepada elektron valensi, maka elektron tersebut
akan meloncat keluar. Oleh karena elektron valensi terletak pada orbit
terluar dari struktur atom, maka elektron tersebut akan meloncat ke
daerah pita konduksi. Pita konduksi merupakan level energi dimana
elektron terlepas dari ikatan inti atom atau menjadi elektron bebas.
Jarak energi antara pita valensi dan pita konduksi disebut dengan pita
celah atau daerah terlarang. Seberapa besar perbedaan energi, Eg, (jarak
energi) antara pita valensi danpita konduksi pada suatu bahan akan
menentukan apakah bahan tersebut termasuk isolator, semikonduktor atau
konduktor. Eg adalah energi yang diperlukan oleh elektron valensi untuk
berpindah dari pita valensi ke pita konduksi. Eg dinyatakan dalam satuan
eV (elektron volt). Semakin besar Eg, semakin besar energi yang
dibutuhkan elektron valensi untuk berpindah ke pita konduksi. Pada
bahan-bahan isolator jarak antara pita valensi dan pita konduksi (daerah
terlarang) sangat jauh. Pada suhu ruang hanya ada sedikit sekali (atau
tidak ada) elektron valensi yang sampai keluar ke pita konduksi.
Sehingga pada bahan-bahan ini tidak dimungkinkan terjadinya aliran arus
listrik. Diperlukan Eg paling tidak 5 eV untuk mengeluarkan elektron
valensi ke pita konduksi.
Pada
bahan semikonduktor lebar daerah terlarang relatif kecil. Pada suhu
mutlak 0' Kelvin, tidak ada elektron valensi yang keluar ke pita
konduksi, sehingga pada suhu ini bahan semikonduktor merupakan isolator
yang baik. Beberapa
elektron mungkin memperoleh cukup energi thermal untuk memutuskan
ikatan kovalen dan keluar dari posisi awalnya. Untuk memutus ikatan
kovalen ini, elektron tersebut mesti memperoleh sejumlah energi minimum,
Eg, atau sering juga disebut energi bandgap. Pada bahan silikon dan germanium masing-masing Eg-nya adalah 1.1 eV dan 0.67 eV.
Elektron
yang memperoleh energi minimum ini sekarang berada pada pita konduksi
dan dikatakan menjadi elektron bebas. Elektron bebas ini didalam pita
konduksi dapat berpindah-pindah sepanjang struktur. Jumlah aliran
elektron pada pita konduksi inilah yang lalu akan menghasilkan arus.
Diagram pita energi ini dapat dilihat pada gambar diatas. Energi Ev adalah energi maksimum dari pita energi valensi, sedangkan energi Eg adalah perbedaan antara Ec dan Ev. Daerah antara kedua energi ini disebut sebagai forbidden bandgap.
Elektron-elektron tidak dapat berada pada daerah ini, tetapi mereka
dapat berpindah dari pita valensi ke pita konduksi apabila memperoleh
cukup energi.
Unsur
yang memiliki energi bandgap yang besar, sekitar 3-6 elektron-Volt (eV)
adalah isolator, karena pada suhu kamar, tidak ada elektron bebas yang
berada pada pita konduksi. Sebaliknya, unsur yang mengandung elektron
bebas dalam jumlah yang sangat banyak pada suhu kamar adalah konduktor.
Pada semikonduktor, energi bandgap-nya berada pada kisaran 1 eV.
Karena
muatan total dari unsur adalah netral, apabila elektron yang bermuatan
negatif memecah ikatan kovalennya dan keluar dari posisi awalnya,
sebuah ruang kosong yang bermuatan positif akan terbentuk pada posisi
tersebut. Dengan meningkatnya suhu, maka akan lebih banyak ikatan
kovalen yang pecah dan lebih banyak pula elektron bebas maupun ruang
kosong positif akan terbentuk.
Elektron
valensi dengan energi thermal tertentu dan berdekatan dengan sebuah
ruang kosong dapat berpindah posisi tersebut, sehingga terlihat seperti
muatan positif yang bergerak diantara semikonduktor. Partikel bermuatan
positif ini disebut hole. Pada
gambar 1.4 dilukiskan dengan lingkaran kosong. Meskipun hole ini secara
fisik adalah kosong, namun secara listrik bermuatan positip, karena
ditinggalkan oleh energi elektron yang bermuatan negatip. Level energi
suatu hole adalah terletak pada pita valensi, yaitu tempat asalnya
elektron valensi. Apabila ada elektron valensi berpindah dan menempati
suatu hole dari atom sebelahnya, maka hole menjadi tersisi dan tempat
dari elektron yang berpindah tersebut menjadi kosong atau hole. Dengan
demikian arah gerakan hole (seolah-olah) berlawanan dengan arah gerakan
elektron.
Sedangkan
pada bahan konduktor pita valensi dan pita konduksi saling tumpang
tindih. Elektron-elektron valensi sekaligus menempati pada pita
konduksi. Oleh karena itu pada bahan konduktor meskipun pada suhu O
derajat K, cukup banyak elektron valensi yang berada di pita konduksi
(elektron bebas).
Pada
semikonduktor, dua jenis partikel bermuatan ini berjasa dalam
menghasilkan arus : elektron bebas yang bermuatan negatif, serta hole
yang bermuatan positif. Konsentrasi elektron dan hole adalah parameter
penting dalam karakterikstik dari sebuah unsur semikonduktor, karena
mereka berpengaruh langsung terhadap besarnya arus.
SEMIKONDUKTOR INSTRINSIK (MURNI)
Semikonduktor
instrinsik adalah sebuah unsur semikonduktor kristal tunggal tanpa atom
jenis lain didalamnya. Pada sebuah semikonduktor instrinsik, kepadatan
elektron dan hole adalah sama (seimbang), karena satu-satunya sumber
partikel ini adalah elektron dan hole yang terbentuk secara thermal.
Untuk itu, kita menggunakan notasi ni untuk menyatakan konsentrasi pembawa intrinsik, yakni konsentrasi dari elektron bebas ataupun hole. Rumus untuk nilai ni ini adalah sebagai berikut :

Dimana :
B adalah koefisien yang spesifik terhadap unsur semikonduktornya
Eg adalah energi bandgap (eV)
T adalah suhu atau temperatur (K)
k adalah konstanta Boltzman (86 X 10-6 eV/K)
e notasi eksponensial
Nilai B dan E unsur dapat dilihat pada tabel dibawah ini,
Konsentrasi
instrinsik ni adalah parameter penting yang sering muncul dalam
persamaan-persamaan arus-tegangan pada komponen semikonduktor.
*elektron-Volt
(eV) adalah satuan energi dimana sebuah elektron dipercepat melalui
medan listrik sebesar 1 V, dan 1 eV setara 1.6e-19 Joule
SEMIKONDUKTOR EKSTRINSIK (TAK MURNI)
SEMIKONDUKTOR TIPE-n
Semikonduktor tipe-n dapat
dibuat dengan menambahkan sejumlah kecil atom pengotor pentavalen
(antimony, phosphorus atau arsenic) pada silikon murni. Atom-atom
pengotor (dopan) ini mempunyai lima elektron valensi sehingga secara
efektif memilikimuatan sebesar +5q. Saat sebuah atom pentavalen
menempati posisi atom silicon dalam kisi kristal, hanya empat elektron
valensi yang dapat membentuk ikatan kovalen lengkap, dan tersisa sebuah
elektron yang tidak berpasangan (lihat Gambar diatas). Dengan adanya
energi thermal yang kecil saja, sisa elektron ini akan menjadi electron
bebas dan siap menjadi pembawa muatan dalam proses hantaran listrik.
Material yang dihasilkan dari proses pengotoran ini disebut
semikonduktor tipe-n karena
menghasilkan pembawa muatan negatif dari kristal yang netral. Karena
atom pengotor memberikan elektron, maka atom pengotor ini disebut
sebagai atom donor. Secara skematik semikonduktor tipe-n digambarkan seperti terlihat pada Gambar diatas.
SEMIKONDUKTOR TIPE-p
Dengan cara yang sama seperti pada semikonduktor tipe-n, semikonduktor tipe-p dapat
dibuat dengan menambahkan sejumlah kecif atom pengotor trivalen
(aluminium, boron, galium atau indium) pada semikonduktor murni,
misalnya silikon murni. Atom-atom pengotor (dopan) ini mempunyai tiga
elektron valensi sehingga secara efektif hanya dapat membentuk tiga
ikatan kovalen. Saat sebuah atom trivalen menempati posisi atom silikon
dalam kisi kristal, terbentuk tigaikatan kovalen lengkap, dan tersisa
sebuah muatan positif dari atom silikon yang tidak berpasangan (lihat
Gambar dibawah) yang disebut lubang (hole). Material yang dihasilkan dari proses pengotoran ini disebut semikonduktor tipe-p karena
menghasilkan pembawa muatan negatif pada kristal yang netral. Karena
atom pengotor menerima elektron, maka atom pengotor ini disebut sebagai
atom aseptor (acceptor). Secara skematik semikonduktor tipe-p digambarkan seperti terlihat pada Gambar dibawah ini.

KEGUNAAN SEMIKONDUKTOR
Bila
dibanding dengan logam daya hantar listrik semikondutor lebih kecil.
Aliran yang kecil menyebabkan aliran listrik pada semikonduktor mudah
dikontrol.
Dasar
penggunaan semikonduktor adalah terbentuknya sambungan p-n (p-n
juncktion) apabila semikonduktor tipe-p dan tipe-n digabungkan.
Sambungan ini yang merupakan dasar terjadinya terjadinya revolusi
industri akibat ditemukan transisistor oleh wiliam Shocklye, John Barden
dan Walter Brattain di laboratorium Bell pada tahun 1948. Selain itu
semikonduktor digunakan untuk membuat sel surya (solar cell) dan
penyearah.
Sel Surya (Solar Cell)
Solar cell terdiri dari dua semikonduktor yaitu:
1. Semikonduktor tipe-p. yang dibuat dari semikonduktor silikon yang dikotori dengan boron.
2. Semikonduktor tipe-n, yang diperoleh dari semikonduktor silikon yang dikotori dengan arsen.
Dua semikonduktor tersebut disambung seperti pada gambar berikut:

Sebelum
kedua semikonduktor tersebut disambung, jumlah hole pada pita valensi
semikonduktor tipe-p lebih banyak dibanding jumlah hole pada pita
valensi semikonduktor tipe-n, sebaliknya jumlah elektron pada pita
konduksi semikonduktor tipe-n lebih banyak dibanding jumlah elektron
pada pita konduksi semikonduktor tipe-p. setelah keduanya disambungkan
maka:
- Pada pita valensi akan terjadi aliran hole dari semikonduktor tipe-p ke semikonduktor tipe-n dan sebaliknya, serta aliran elektron dari semikonduktor tipe-n ke semikonduktor tipe-p dan sebaliknya sampai terjadi kesetimbangan.
- Pada pita konduksi akan terjadi aliran elektron dari semikonduktor tipe-n ke semikonduktor tipe-p dan sebaliknya sampai terjadi kesetimbangan.
Pada
keadaan setimbang jumlah hole yang bergerak dari pita valensi
semikonduktor tipe-p ke semikonduktor tipe-n sama dengan jumlah hole
yang bergerak ke arah yang berlawanan. Demikian juga halnya dengan
jumlah elektron yang mengalir dari semikonduktor tipe-n ke semikonduktor
tipe-p dan sebaliknya. Akibatnya dua proses tersebut maka pada
semikonduktor tipe-n akan berkembang muatan positif dan pada
semikonduktor tipe-p akan berkembang muatan negatif. Dengan kata lain
antara kedua bagian tersebut timbul potensial listrik.
Pada
sel surya semikonduktor tipe-p dibuat lebih tipis dibanding
semikonduktor tipe-n. Pada pengoperasian sel suria, bagian yang
dikenakan sianr matahari adalah semikonduktor tipe-p.
Pada
waktu sel surya terkena sinar matahari maka elektron-elektron pada
semikonduktor tipe-p mendapatkan tambahan energi termal.
Elektron-elektron tersebut dapat melewati sambungan p-n (p-n junction)
dan memasuki semikonduktor tipe-n. Apabila daya gerak elektron-elektron
tersebut cukup besar maka mereka akan melewati kawat penghantar (menuju
ke semikonduktor tipe-p kembali) sehingga arus listrik yang energinya
daapat langsung dimanfaatkan atau disimpan dalam baterai. Jadi fungsi
dari sel suria adalah merubah energi cahaya matahari menjadi energi
listrik.
Silikon
yang digunakan pada sel surya selain sebagai kristal tunggal (single
crystal), silikon dapat diperoleh dalam bentuk amorf. Silikon amor dapat
diperoleh melalui deposisi uap silikon. Kemampuan silikon amorf dalam
menyerap sinar matahri 40 kali lebih efisien dibanding kristal silikon.
Oleh karena itu sel suria banyak digunakan semikonduktor dengan bahan
dasar silikon amorf.
Sel
surya dengan bahan dasar amorf adalah lebih tahan lama dibanding sel
suria dengan bahan dasar kristal tunggal. Disamping itu, silion amorf
dapat dibuat pada temperatur rendah dan dapat di depositkan pada
substrat yang harganya relatif murah. Sel suria dengan bahan dasar amor
banyak digunakan sebagai sumber energi pada kalkulator.
Harga
silikon amor cenderung semakin murah. Oleh karena itu pemakian
semikonduktor dengan bahan dasar silikon amor pada peralatan elektronik
yang lain cenderung semakin meluas di massa yang akan datang.

Komentar
Posting Komentar